Cari Blog Ini

Memuat...

video video

Loading...

Jumat, 21 Januari 2011

Analisa batubara


III. COAL ANALYSIS

Jenis analisa atau parameter untuk menentukan kualitas suatu batubara banyak sekali baik analisa fisik atau disebut physical property, chemical property, pilut scale test, dan lain-lain. Contoh yang masuk kedalam physical property misalnya ; HGI, Sieve analysis, Drop shatter, bulk density dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk kedalam chemical property adalah misalnya Proximate, Ultimate, Ash analysis, dan lain-lain. Dan beberapa contoh pilot scale test misalnya ; Test Sponcomb, Test burn, Wet tumble test, dan lain-lain. Begitu banyak test atau analysis yang dilakukan terhadap batubara dengan tujuannya masing-masing. Setiap test atau analyisis sudah pasti ada tujuan atau ada yang ingin diketahui. Ditinjau dari tujuannya, coal analysis dapat dibagi kedalam dua tujuan utama yaitu tujuan Study, dan tujuan komersial.
Di dalam module ini coal analysis yang akan dibahas dibatasi hanya untuk beberapa parameter khususnya yang ternmasuk ke dalam basic analysis dan parameter yang biasa ditentukan untuk kepentingan komersial batubara. Parameter-parameter tersebut adalah :

• Moisture
• Ash
• Volatile matter
• Fixed carbon
• Sulfur
• Calorific Value

III.1 Moisture

Moisture di dalam batubara dapat dibagi menjadai dua bagian yaitu inherent moisture dan extraneous moisture. Dua istilah tersebut di atas merupakan istilah pengertian bukan istilah parameter. Inherent moisture adalah moisture yang terkandung dalam batubara dan tidak dapat menguap atau hilang dengan pengeringan udara atau air drying pada ambien temperature walaupun batubara tersebut telah di milling ke ukuran 200 mikron. Inherent moisture ini hampir menyatu dengan struktur molekul batubara karena berada pada kapiler yang sangat kecil dalam partikel batubara. Nilai Inherent moisture ini tidak fluktuatif dengan berubah-ubahnya humiditas ruangan. Dan moisture ini baru bisa dihilangkan dari batubara pada pemanasan lebih dari 100 derajat Celsius. Extaraneous moisture adalah moisture yang berasal dari luar dan menempel atau teradsorpsi di permukaan batubara atau masuk dan tergabung dalam retakan-retakan atau lubang-lubang kecil batubara. Sumber extraneous moisture ini misalnya ; air dari genangan, air hujan, dan lain-lain. Moisture ini dapat dihilangkan atau diuapkan dengan cara air drying atau pemanasan di oven pada ambien temperature. Ada yang mengistilahkan untuk moisture ini adalah Surface moisture atau Free moisture.

Parameter – parameter yang termasuk kedalam penentuan kadar moisture adalah ;
• EQM / MHC / Inherent moisture / Bed moisture / In situ Moisture
• Total Moisture / as received moisture / as sampled moisture / as despatched moisture
• Air dried moisture / inherent moisture / moisture in the analysis sample
• Transportable moisture limit / flow moisture

III.1.1 Equilibrium moisture

Equilibrium moisture adalah parameter penentuan moisture sebagai pendekatan untuk menentukan inherent moisture atau insitu moisture dalam batubara. EQM ini biasanya ditentukan pada saat explorasi batubara yang kegunaanya adalah untuk memperkirakan nilai TM pada saat batubara tersebut ditambang. Nilai EQM ini relative tidak fluktuasi nilainya pada satu seam yang sama. Selain untuk memperkirakan TM, juga EQM berguna dalam menentukan golongan atau Rank dari suatu batubara terutama untuk Low rank coal yang penentuan Ranknya menggunakan nilan calorific value pada basis mmmf (moist, mineral matter free basis), di mana basis ini memerlukan data insitu moisture atau EQM. EQM ini adalah istilah penentuan dalam standard ASTM, sedangkan dalam ISO standard istilah parameternya adalah MHC ( Moisture Holding Capacity ). Belakangan ini penentuan untuk inherent moisture ini bisa dilakukan pada sample channel yang not visible surface moisture dengan prosedur sampling tertentu.

III.1.2 Total Moisture

Total moisture biasanya ditentukan pada batubara mulai dari explorasi sampai transhipment. Nilainya sangat penting sekali, karena dalam penjualannya nilai TM sangat diperhatikan dan menentukan harga jual dari batubara tersebut selain berpengaruh pada nilai parameter-parameter lain dalam basis as received. Dalam explorasi, TM ditentukan untuk menaksir atau memperkirakan nilai TM batubara in-situ sekaligus untuk menentukan nilai surface moisturenya dari selisih antara TM dan EQM. Karena TM adalah jumlah dari EQM dengan Surface moisture. ( TM = EQM + SM ). Selain itu, nilai TM yang didapat dari sample core pada saat explorasi banyak digunakan oleh geologist-geologist untuk menampilkan data dalam basis as received pada saat batubara tersebut belum ditambang. Yang paling menentukan dalam penentuan TM ini adalah samplingnya. Dimana sesaat setelah sample batubara disampling sesegera mungkin sample tersebut harus dimasukan kedalam kontainer yang ditutup sangat rapat sehingga tidak ada moisture yang masuk ataupun keluar dari sample tersebut. Apabila ini terlaksana dengan baik maka nilai TM yang diperoleh dapat dianggap mewakili nilai moisture batubara yang diambil samplenya tersebut pada saat dan keadaan batubara tersebut disampling. Prinsip ini biasanya sulit terlaksana pada sample core dari sample Pit atau bor dalam, karena dari sample core tersebut masih ada beberapa data yang harus dicatat dan diamati. Sehingga sample tersebut tidak segera dapat dimasukan kedalam kontainer yang kedap udara sesaat setelah disampling. Selain itu pada saat pemboran biasanya menggunakan air selama coring dilakukan. Sehingga kontaminasi batubara tersebut oleh air yang bukan berasal dari batubara mungkin sekali terjadi. Oleh karena itu nilai TM tersebut menjadi tidak begitu reliable untuk menunjukan nilai TM batubara in-situ. Nilai TM yang diperoleh juga biasanya sangat fluktuatif nilainya.
Pada coal in bulk, nilai TM ini dipengaruhi oleh luas permukaan batubara (size distribusi ), juga oleh cuaca, sehingga nilai TM pada coal in bulk relatif fluktuatif seiring dengan keadaan cuaca atau musim dan size distribusi dari batubara tersebut terutama setelah di crushing.

III.1.3 Air dried moisture

Sesuai dengan namanya, air dried moisture adalah nilai moisture batubara pada saat setelah batubara tersebut di air drying. Nilai moisture ini sangat penting karena pada dasarnya semua parameter ditentukan pada sample setelah air drying sehingga basisnya adalah air dried basis. Nilai parameter dalam basis ini merupakan actual hasil analisa dari Lab. Sedangkan basis-basis lainya dalam coal analysis merupakan kalkulasi saja dari nilai-nilai air dried basis ini. Jadi jelaslah bahwa tanpa nilai air dried moisture, parameter-parameter yang lain tidak dapat diubah kedalam basis lainnya. Selain itu nilai ADM ini berpengaruh pada nilai parameter lainnya pada basis air dried, seperti CV, VM, Sulfur dan lain-lain. Sehingga nilai ADM menjadi lebih penting lagi apabila spesifikasi dinyatakan dalam basis air dried.

III.1.4 Transportable Moisture Limit ( TML )

Batubara in bulk yang diangkut dengan menggunakan palka tertutup seperti kapal-kapal besar, dalam kondisi tertentu yang diakibatkan oleh angin dan ombak, memungkinkan terjadinya segregasi moisture dan finer coal dari bulk dan membentuk semacam “liquefaction” dan pada kondisi tertentu dapat membahayakan kapal tersebut terutama pada stability kapal selama dalam pelayarannya. Oleh karena itu IMO ( International Marine Organisation) mensyaratkan untuk setiap kapal yang mengangkut batubara terutama low rank coal, harus meminta statement dari Shipper mengenai nilai transportable moisture limit dari batubara yang akan dimuat. Ada satu metoda yang dikembangkan di National Coal Board (UK) untuk menentukan nilai TML ini yaitu dengan cara ; Sebanyak 10 kg batubara dimasukan ke dalam suatu silinder di mana di bawah silinder tersebut diletakan dua bola tenis meja. Kemudian silinder tersebut diletakan diatas “Vibrating table”. Penentuan ini dilakukan pada nilai moisture batubara yang bervariasi. Flow Moisture ditentukan sebagai nilai moisture pada saat bola tenis meja tersebut masuk naik ke atas batubara dalam silinder tersebut. Sedangkan TML adalah 90 % dari nilai Flow moisture tersebut.


III.2. ASH CONTENT.

Sebenarnya batubara tidak mengandung ash melainkan mengandung mineral matter. Ash adalah istilah parameter di mana setelah batubara dibakar dengan sempurna, material yang tersisa dan tidak terbakar adalah ash atau abu sebagai sisa pembakaran. Jadi ash atau abu merupakan istilah umum sebagai sisa pembakaran. Pada material yang lain mungkin ash ini dapat mencerminkan langsung mineral matter yang terkandung dalam material yang dibakar tersebut. Akan tetapi di dalam batubara hal tersebut tidak selamanya terjadi karena terjadinya reaksi-reaksi kimia selama pembakaran atau insinerasi batubara tersebut, sehingga nilai ash yang didapat relative akan lebih kecil dibanding dengan nilai mineral matter yang sebenarnya. Ada pula yang menggolongkan mineral dalam batubara kedalam tiga kategori yaitu ;

• Mineral matter
• Inherent ash
• Extraneous ash

Mineral matter adalah unsur-unsur yang terikat secara organik dalam rantai carbon sebagai kation pengganti hidrogen. Unsur ini biasanya ada dalam batubara pada saat pembentukan batubara yang berasal dari tumbuhan atau pohon pembentuk batubara tersebut. Unsur yang biasanya ditemukan sebagai mineral matter ini adalah Kalsium, Sodium, dan juga ditemukan besi dan alumina pada low rank coal. Inherent ash adalah superfine discrete mineral yang masih dapat tertinggal dalam partikel batubara setelah dipulverize. Dan yang ketiga adalah extraneous ash, yang termasuk kedalam kategori ini adalah tanah atau pasir yang terbawa pada saat penambangan batubara dan mineral yang keluar dari partikel batubara pada saat dipulverize. Ketiga jenis ash tersebut sangat tergantung pada lingkungan pada saat pembentukan batubara serta bahan pembentuk batubara sehingga memiliki sifat-sifat thermal masing-masing, akibatnya juga setiap type ash tersebut memiliki kontribusi yang berbeda terhadap slagging dan fouling. Penentuan di laboratorium yaitu dengan membakar batubara pada temperature 750 atau 800 derajat celsius sampai dianggap pembakaran telah sempurna. Dalam prosedure standard temperature dan waktu pembakaran ditentukan yang nilainya tergantung kepada standard masing-masing. Penentuan secara prosedure di atas untuk batubara tertentu yang mengandung banyak pyrite dan carbonat, menjadi tidak begitu teliti karena selama pembakaran terjadi beberapa reaksi akan terjadi. Reaksi reaksi yang mungkin terjadi selama pembakaran adalah ;

• Decomposisi Pyrite :
4 FeS2 + 15 O2 2 Fe2 O3 + 8 SO3
• Dekomposisi Carbonat
CaCO3 + CaO + CO2

• Fixation of sulfur
CaO + SO3 CaSO4
Na2O + SO3 Na2SO4

Dari reaksi-reaksi yang terjadi seperti disebutkan di atas, berikut adalah beberapa contoh dalam aplikasi di lapangan.
• Di Victoria, Australia, ash ditentukan dari suatu lignite hasilnya adalah 3.9 %, Pada waktu batubara dibakar di power station boiler yield ashnya kurang dari 2 %. Dari hasil investigasi menunjukan bahwa tingginya sodium dalam batubara tersebut kebanyakan terikat pada molekul batubara bukan bagian dari mineral matter Dalam applikasi di industri seperti pada power station sodium jenis ini atau ada pula yang menyebutnya sebagai sodium organik, hilang meninggalkan furnace tervolatilisasi sehingga tidak terjadi reaksi dengan mineral yang lainnya. Sedangkan pada waktu test di laboratorium sodium ini fixed sebagai ash. Oleh karena itu nilainya lebih tinggi dibanding dengan setelah batubara tersebut dibakar di power station.
• Di Thailand ada batubara yang pada waktu dianalisa hasilnya adalah sebagai berikut ;
Moisture (ar) = 32 %
Ash (ad) = 22 %
Total Sulfur = 4 %
Calsium in ash = 40 %
Sedangkan hasil dari online analyser yield ashnya 5 % lebih rendah daripada hasil test laboratorium. Hal tersebut diakibatkan oleh fixation sulfur pada saat penetapan di laboratorium.
Dalam basis dry mineral matter free basis (dmmf) untuk penentuan rank batubara di ASTM, Ash yang digunakan adalah hasil kalkulasi dimana ash dinyatakan sebagai ash bebas sulfat.
Dalam utilisasinya batubara yang digunakan sebagai fuel murni ash tinggi tidak diharapkan karena selain ash merupakan material yang incombustible, juga akan menambah beban dalam pengolahan limbahnya. Namun untuk keperluan tertentu ash tinggi justru dibutuhkan asalkan calori yang dibutuhkan juga terpenuhi. Dari type batubara yang sama semakin tinggi nilai ash, maka semakin kecil nilai kalorinya dalam basis adb, dan ash received karena antara ash dan CV memiliki korelasi yang jelas. Inherent ash yang tinggi akan sulit sekali dipisahkan dari batubara akan tetapi extraneous ash masih bisa dikurangi dengan memperkecil dilusi yang terjadi pada saat penambangan atau dengan suatu proses pencucian.

III.3. VOLATILE MATTER

Volatile Matter adalah zat terbang yang terkandung dalam batubara. Zat yang terkandung dalam volatile matter ini biasanya gas hidrokarbon terutama gas methane. Volaitile matter ini berasal dari pemecahan struktur molekul batubara pada rantai alifatik pada temperature tertentu. Di laboratorium sendiri penentuannya dengan cara memanaskan sejumlah batubara pada temperature 900 derajat Celsius dengan tanpa udara. Volatile matter keluar seperti jelaga karena tidak ada oksigen yang membakarnya. Volatile matter merupakan salah satu indikasi dari rank batubara. Dalam klasifikasi batubara ASTM, Volatile matter digunakan sebagai parameter penentu rank untuk batubara high rank coal. Volatile matter juga memiliki korelasi yang jelas dengan salah satu maceral yaitu Vitrinite. Apabila volatile matter dalam basis DMMF di plot dengan reflectance dari vitrinite, maka akan diperoleh suatu garis yang relative lurus yang korelatif dengan rank batubara. Selain itu pada saat penentuan di laboratorium, juga dapat digunakan sebagai prediksi awal apakah batubara tersebut memiliki sifat agglomerasi atau tidak.
Sifat dalam coal combustion, volatile matter memegang peranan penting karena ikut menentukan sifat-sifat pembakaran seperti efisiensi pembakaran karbon atau carbon loss on ignition. Volatile matter yang tinggi menyebabkan batubara mudah sekali terbakar pada saat injection ke dalam suatu boiler. Low rank coal biasanya mengandung Voloatile matter yang tinggi sehingga memiliki efisiensi yang sangat tinggi pada saat pembakaran di power station.
Volatile matter juga digunakan sebagai parameter dalam memprediksi keamanan batubara pada Silo Bin, Miller atau pada tambang-tambang bawah tanah. Tingginya nilai volatile matter semakin besar pula resiko dalam penyimpananya terutama dari bahaya ledakan.

III.2. FIXED CARBON

Fixed carbon adalah adalah parameter yang tidak ditentukan secara analisis melainkan merupakan selisih 100 % dengan jumlah kadar moisture, ash, dan volatile matter. Fixed carbon ini tidak sama dengan total carbon pada Ultimate. Perbedaan yang cukup jelas adalah bahwa Fixed carbon merupakan kadar karbon yang pada temperature penetapan volatile matter tidak menguap. Sedangkan carbon yang menguap pada temperature tersebut termasuk kedalam volatile matter. Sedangkan total carbon yang ditentukan pada Ultimate analysis merupakan semua carbon dalam batubara kecuali carbon yang berasal dari karbonat. Jadi baik hidrokarbon yang termasuk kedalam Volatile matter atau Fixed carbon termasuk di dalamnya. Penggunaan nilai parameter ini sama dengan volatile matter yaitu sebagai parameter penentu dalam klasifikasi batubara dalam ASTM standard. Serta untuk keperluan tertentu fixed carbon bersama volatile matter dibuat sebagai suatu ratio yang dinamakan fuel ratio (FC/VM).

III.2. SULFUR
Sulfur di dalam batubara sama seperti halnya material yang lain terdiri dari dua jenis yaitu sulfur organik dan sulfur anorganik. Sulfur organik biasanya ada dalam batubara seiring dengan pembentukan batubara dan berasal dari tumbuhan pembentuk batubara tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan juga berasal dari luar tumbuhan yang dikarenakan suatu reaksi kimia yang terjadi pada saat peatifikasi dan coalifikasi pada saat perubahan diagenetik dan perubahan kimia. Sedangkan anorganik sulfur berasal dari lingkungan di mana batubara tersebut terbentuk atau bisa juga dari mineral yang berada disekeliling batubara atau bahkan yang berada dalam seam batubara yang membentuk parting, spliting, band dan lain-lain. Sulfur anorganik ini biasanya dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu Pyritic sulfur dan sulfat sulfur. Dalam analysis di laboratorium sulfur-sulfur ini ditentukan dengan parameter yang disebut form of sulfur. Dimana laporannya terdiri dari pyritic sulfur, sulfate sulfur dan organik sulfur. Yang ditentukan di laboratorium dengan test adalah hanya piritic sulfur dan sulfate sulfur sedangkan organik sulfur merupakan hasil kalkulasi selisih antara Total sulfur dan jumlah dari piritic dan sulfate sulfur. Form of sulfur biasa digunakan untuk memprediksi secara awal apakah sulfur dari batubara tersebut dapat dikurangi dengan cara separasi media atau washibility density. Organik sulfur secara teoritis tidak dapat dipisahkan dari batubara dengan metoda separasi yang menggunakan dens medium plan atau washing karena sulfur tersebut terikat secara organik dalam molekul batubara. Sedangkan anorganik sulfur secara teoritis dapat dihilangkan atau dikurangi dengan cara separasi media karena termasuk ke dalam mineral matter yang memiliki density lebih tinggi dibanding batubara. Selai itu pyrtic sulfur juga digunakan sebagai bahan acuan dalam memprediksi kecenderungan batubara tersebut untuk terbakar secara spontan pada waktu penyimpanannya di stockpile. Karena pyritic sulfur dapat mengkatalisasi terjadinya self heating pada batubara yaitu dengan reaksi oksidasi yang menghasilkan panas. Selain itu dari reaksi tersebut dapat menyebabkan disintegrasi partikel batubara sehingga menambah luas permukaan batubara yang juga dapat menambah kecenderungan batubara tersebut untuk teroksidasi yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya pembakaran spontan. Hidrogen disulfida atau FeS2 di dalam batubara terdiri dari dua type yaitu cubic yellow pyrite dan rombik marcasite. Dan marcasite inilah yang disinyalir lebih reaktif terhadap oksigen dibanding pyrite.
Dalam utilisasi di industri sulfur yang tinggi sangat tidak diharapkan karena dapat menimbulkan emisi SO2 yang konsentrasinya tidak boleh tinggi karena dapat menyebabkan hujan asam. Batasan konsentrasi SO2 yang diijinkan tergantung dari negara di mana industri tersebut berada, karena peraturan masing-masing negara berbeda. Selain itu SO2 juga termasuk corrosive constituent bersama chlorine yang dapat merusak metal atau peralatan yang terbuat dari logam di dalam boiler tersebut..

III.2. CALORIFIC VALUE

Calorific Value atau disebut juga Specific Energy, higher heating value merupakan parameter yang sangat penting, karena pada dasarnya yang dibeli dari batubara adalah energy. Nilai CV yang dibutuhkan oleh pengguna batubara bervariasi tergantung dari design peralatan yang dibuat. Ada yang memerlukan Calorific value tinggi, ada yang menengah, bahkan ada pula yang kalori rendah. Pada prinsipnya batubara yang dibakar pada suatu industri atau boiler harus memiliki nilai kalori yang sesuai dengan capasitas energy yang ditargetkan dapat tersupply yang telah disesuaikan dengan design boiler tersebut. Untuk mencapai hal tersebut pengguna batubara biasanya membeli batubara dari shipper tertentu yang memiliki nilai kalori sesuai dengan yang dibutuhkan dan konsisten. Dalam hal ini pengguna batubara tersebut menggunakan single type coal. Akan tetapi ada pula pengguna batubara yang membeli batubara dengan nilai kalori yang bervariasi dari yang rendah, sedang ,sampai tinggi. Namun coal feed yang dimasukan kedalam boiler nilai kalorinya harus tetap sesuai dengan design boiler tersebut. Dalam hal ini batubara yang bervariasi tersebut diblending. Yang kedua ini biasanya disebabkan oleh alasan ekonomi dan di mana dengan cara ini harga batubara dapat diatur. Dan juga supaya terjamin bahwa supply batubara yang diperlukan dapat terus secara konsisten sehingga tidak terjadi kekurangan bahan bakar. Menggunakan single supplier biasanya riskan konsistensinya karena apabila perusahaan tersebut mengalami masalah dan stop produksinya maka akan berdampak sangat besar terhadap kelangsungan industri tersebut terutama dalam supply energy.
Calorific Value batubara biasanya dinyatakan dalam Kcal/kg, atau cal/g. Namun ada juga yang menggunakan MJ/kg, dan Btu/lb. Sedangkan basis yang digunakan dalam transaksi jual beli batubara tersebut bervariasi ada yang menggunakan adb, ar dan ada pula yang menggunakan NAR (Net as Received). Basis ketiga ini dianggap yang lebih mendekati dengan energy yang akan dihasilkan pada saat batubara tersebut dibakar.
Konversi masing-masing unit diatas adalah :
1 cal/g = 1 BTU/lb
429.932 MJ/kg = 1 BTU/lb
238.85 MJ/kg = 1 cal/g
Sedangkan konversi dari gross ke net adalah sebagai berikut ;
1. ISO : Net CV (MJ/kg) = Gross CV – 0.212 (H) – 0.0008(O) - 0.0245(M)
2. BS : Net CV (MJ/kg) = Gross CV – 0.212 (H) – 0.0007(O) - 0.0244(M)
3. ASTM : Net CV (MJ/kg) = Gross CV – 0.024 [9(H) + (M)]

(H) = Hydrogen %
(O) = Oxygen %
(M) = Moisture %

Basis dari masing-masing parameter tergantung keperluan. Apabila yang diharapkan adalah Nett as received, maka basis semua parameter dalam formula tersebut harus dalam as received.


IV. BASIS

Basis adalah dasar yang dipakai untuk menyatakan nilai dari suatu parameter dan menginterpretasikan nilai tersebut pada kondisi tertentu batubara. Interpretasi dari basis tersebut sesuai dengan istilah basis tersebut, misalkan seperti basis basis dibawah ini ;
• As received/as sampled basis (AR) = nilai parameter atau kualitas batubara pada saat batubara tersebut diterima / disampling.
• Air dried basis (ADB) = nilai kualitas pada kondisi batubara setelah di air dried.
• Dry basis (DB) = nilai kualitas pada kondisi batubara kering atau tidak memiliki nilai moisture (moisture free)
• Dry ash free basis (DAF) = nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut kering dan bebas dari ash.
• Dry mineral matter free basis (DMMF) = menginterpretasikan nilai kualitas pada kondisi batubara tidak mengandung air dan mineral matter.
• Moist, mineral matter free basis (mmmf) menginterpretasikan nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut masih didalam tanah (in-situ coal) dan tidak mengandung mineral matter
• Dan lain-lain.

Basis-basis diatas merupakan basis-basis yang umum atau biasanya dipakai dalam menyatakan nilai dari suatu parameter kualitas dari suatu batubara. Selain basis-basis tersebut di atas masih ada beberapa basis lainnya yang hanya untuk keperluan tertentu saja digunakan seperti misalnya ; Sulfat free, SO3 free, Ash free, dan lain-lain.
Dari interpretasi–interpretasi basis diatas, maka dibuatlah suatu persamaan matematis untuk menyatakannya kedalam bentuk angka. Seperti terlihat pada table 1.



TABLE – 1


Desire result

Given results As analysed
(air dry)
ad As received
(as sampled)
AR Dry basis
(DB) Dry, ash, free
(DAF) Dry mineral matter free
(Dmmf)
As analysed
(air dry)
ad - 100- Mar

100- Mad 100

100- Mad 100

100- Mad -Aad 100

100- Mad–Mmad
As received
(as sampled)
AR 100- Mad

100- Mar - 100

100- Mar 100

100- Mar –Aar 100

100- Mar–Mmar
Dry basis
(DB) 100 - Mad

100 100-Mar

100 - 100

100- Adb 100

100 – Mmdb
Dry, ash, free
(DAF) 100-Mad-Aad

100 100-Mar-Aar

100 100-Adb

100 - 100-Adb

100-Mmdb
Dry mineral matter free
(Dmmf) 100-Mad-Mmad

100 100-Mar-Mmar

100 100-Mmdb

100 100-Mmdb

100-Adb -


KETERANGAN :

Mad = Moisture in the analysis sample / air dried moisture / Inherent moisture (AS standard)
Mar = Total Moisture
Aad = Ash air dried basis
Mmad = Mineral matter air dried basis
Aar = Ash as received basis
Mmar = Mineral matter as received basis
Adb = ash dry basis
Mmdb = Mineral matter dry basis

Mineral matter diperoleh dari PARR formula dengan persamaan sebagai berikut :

MMad = 1.08Aad + 0.55 Sad
MMar = 1.08Aar + 0.55 Sar
MMdb = 1.08Adb + 0.55 Sdb

Dimana ;

MMad = Mineral matter air dried basis
MMar = Mineral matter as received basis
MMdb = Mineral matter dry basis
Aad = Ash air dried basis
Aar = Ash as received basis
Adb = Ash dry basis
Sad = Sulfur air dried basis
Sar = Sulfur as received basis
Sdb = Sulfur dry basis

11 komentar:

  1. hebat si mang ucup uyy,,, aya kadaek tutulisan seperti ini,,

    yuu ahh kita kembangkan :D

    BalasHapus
  2. mau tanya nilai minimum dan maksimum dari zat terbang dan karbon terikat

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak ada spesifikasi khusus batasan minimum ato maximum dr suatu kandungan batubara biasa nya tergantung kebutuhan dr user batubara itu sendiri

      Hapus
    2. tidak ada spesifikasi khusus batasan minimum ato maximum dr suatu kandungan batubara biasa nya tergantung kebutuhan dr user batubara itu sendiri

      Hapus
  3. kalau untuk parameter size 0-50mm pakai parameter iso berapa ya?
    sori masih baru.

    BalasHapus
  4. mas jelas kan penjabaran tentang ASTM,khusus nya ADL dan proximate,apakah dalam preparasi ADL batu bara yang di preparasi juga di ikutkan?kirim ke email nosa.prasetyo@yahoo.com

    BalasHapus
  5. Just information, yang butuh instrument lab atau ingin lebih mengetahui mengenai instrumentnya dapat INBOX sertakan alamat emailnya saya akan kirim brosurnya

    Instrument lab :
    Atomic Absorpban Spektrometer merek GBC (ppm dan ppb) Hydrite dan Graphite Furnace
    Spektro UVVIS with 4 type
    ICP OES (ppb) and ICPMS (ppt) merek GBC
    XRD merek GBC

    GC X GC merek LECO
    GC X GC TOFMS merek LECO
    GCTOFMS merek LECO
    GC HRT Merek LECO to analyze dioksin n furan

    Partikel Size (Nano) merek Micromeritics
    Porosimetry merek Micromeritics
    Density merek Micromeritics

    Mercury Analyzer merek LECO
    Proximate merek LECO
    Bomb Calorie merek LECO
    Analyze C,H,N,O,S (Or ganik and Inorganik) merek LECO
    Ash Fusion merek LECO

    BalasHapus
    Balasan
    1. email : penyedia_laboratorium@yahooco.id

      Hapus
    2. mas saya mau tanya kalau batubara jenis low rank itu terbakar pada temperatur berapa ya ???
      mohon bantuannya karena saya butuh datanya untuk Tugas Akhir..
      ini email saya : eka12prasetya@gmail.com

      Hapus
  6. suf pang cariin selt heating test uy.

    BalasHapus
  7. Mas, mohon info tentang prosedur pengerjaan Transportable Moisture limit secara lengkap.. terima kasih

    BalasHapus